Berangkat cepat-cepat dari jarak ribuan kilometer nan jauh di Jerman sana menghabiskan waktu terbang selama belasan jam lebih ke tanah air langsung menuju Rumah Sakit Pusat Pertamina didampingi sang istri hanya dengan satu tekad bulat yang tulus, yaitu menjenguk sang guru dan tokoh panutannya sejak muda, HM. Soeharto.
Begitu sampai di RSPP, ternyata apa yang diharapkannya untuk bertemu tatap muka dengan mantan penguasa orde baru itu nggak semulus kenyataannya. Kehadiran beliau ditolak di tengah-tengah keluarga besar Soeharto. Keluarga Cendana berdalih nggak menerima mantan wapres di masa pemerintahannya itu dengan alasan keletihan dan sibuk menunggui Pak Harto. Beliau juga nggak bisa masuk ke ruang perawatan Pak Harto karena saat itu tim dokter tengah mengganti alat penyedot cairan. Lantas nggak boleh ada seorang pun diizinkan masuk ke ruangan tersebut, termasuk BJ Habibie, orang yang menjenguk itu.

Sudah jelas BJ Habibie merasa kecewa dengan alasan klise dan terkesan dibuat-buat itu. Beliau bersama istrinya menyempatkan datang jauh-jauh dari Jerman, eh begitu sampai RSPP, dicuekin. Malah nggak ada seorang pun dari putra-putri Pak Harto yang menyambut kedatangan beliau. Bahkan baru-baru ini ada fakta yang beredar, jangankan masuk ke kamar Pak Harto, mendekat ke areal Keluarga Cendana aja nggak boleh alias nggak diizinkan. Fakta lainnya, perjalanan Habibie menuju lantai 5 dimana Keluarga Cendana dan Pak Harto berada tidaklah mulus. Lantai itu dijaga ketat oleh petugas keamanan. Untuk mengelabui wartawan, beliau harus melewati kamar mayat, naik ke lantai 6 dan disitu beliau tertahan selama 20 menit menunggu konfirmasi dari penerima tamu Pak Harto. Kemudian BJ Habibie dijemput oleh Quraish Shihab, lalu mereka turun kembali ke lantai 5. Akhirnya BJ Habibie dipersilakan masuk ke sebuah ruangan dekat lift yang jaraknya dari kamar Pak Harto masih sangat jauh, 50 meter lebih.
Di ruangan tersebut BJ Habibie mendapat penjelasan dari tim dokter mengenai kondisi terakhir Pak Harto. Di ruangan itu pula beliau bersama Quraish Shihab berdo’a untuk kesembuhan Pak Harto.
Kasihan ya Habibie, datang jauh-jauh dari Jerman cuma boleh masuk ke ruangan deket lift…
Menurut saya, selama sakitnya Pak Harto nggak ada kejadian lain yang sedramatis saat BJ Habibie datang ke RSPP. Kunjungan Habibie itu bisa dibilang langka dan sangat menentukan bagi kita untuk mengetahui gimana sih aslinya sikap, watak, karakter dan kebesaran hati keluarga Cendana. Seperti yang kita tahu, BJ Habibie bukanlah tokoh sembarangan. Beliau mantan Menristek, mantan Wakil Presiden, juga mantan Presiden yang menggantikan Pak Harto ketika mundur dari jabatannya dan pernah menjadi orang kesayangan Pak Harto di djaman doeloe. Tapi sambutan dari pihak Cendana begitu mengecewakannya.
Saya rasa episode dendam dan permusuhan keluarga Soeharto terhadap BJ Habibie masih belum berakhir. *stay tuned* Dan disinilah semestinya kita bisa mengetahui watak asli keluarga Cendana, yaitu Pendendam, nggak mau memaafkan BJ Habibie.
Lalu, apa artinya para tokoh, kroni, eks pejabat orba, ulama, blogger, khalayak ramai berlomba-lomba berorasi menyeru agar masyarakat Indonesia memaafkan Pak Harto. Apa artinya bila saya, anda, kita, mereka dan rakyat memaafkan Pak Harto sedang mereka memberi maaf kepada orang lain saja susah. Mereka malah menutup mata, telinga dan mulut. Semoga saja saya harap mereka nggak menutup pintu hatinya.
Memberi maaf dalam konteks moral, agama dan kemanusiaan itu wajib hukumnya. Tapi masalah hukum dan keadilan, masalah pertanggung jawaban atas kejahatan yang dilakukan pada masa lalu, itu urusan lain. Hukum nggak bisa diinjak-injak atas nama rasa iba belas kasihan.
Ah, sudahlah… masih banyak urusan lain selain membicarakan sakitnya Pak Harto. Lihat aja tuh diseberang sana, antrean minyak tanah di berbagai daerah makin panjang, pengusaha tahu dan tempe banyak yang gulung tikar karena harga kedele melonjak, penyaluran kompor gas dari pemerintah masih ngendap entah dimana, belum lagi korban banjir yang menderita. Persis seperti balik lagi ke zaman orde lama, dimana kondisinya hampir sama dengan keadaan sekarang, serba susah.
Netizen : Pemerintah lagi ngapain sih???
BLOGiE : 
BLOGIE : Lagi nyantai ngoprek laptop gratis sambil ngopi duduk di kursi males nan nyaman dengan kaki diselonjorin diatas meja plus nonton TV LCD yang gratis juga dipasang di tiap ruangan, semuanya itu duitnya dari rakyat…
Netizen : 
Netizen : Manja banget ya?
BLOGIE : Ironis!
Artikel Terkait :
1. Tentang Soeharto
2. Papa, Apa Uang Sakuku Hasil Korupsi
3. Isyarat Pak Harto
4. Do’a Untuk Soeharto
5. Sisi Baik Pak Harto
6. Kebesaran Soeharto dan Permintaan Maafnya
7. Memaafkan Soeharto???


23 tanggapan so far ↓
Praditya // Januari 19, 2008 pada 8:34 am |
Lah, bikin penasaran aja…
Tpi BJH kesian juga tuh, udah capek2 kesini malah digituin…
Jadi inget pas dia terakhir mjabat jadi presiden dulu…
GiE // Januari 19, 2008 pada 8:51 am |
itu memang fotonya BJH yang lagi pidato pas didaulat jadi presiden
Ina // Januari 19, 2008 pada 8:54 am |
Ehmm… Keluarga Cendana ada aja yg bikin mereka jadi bahan pemberitaan.
cuma kok jelek2 mulu yach.
BJ> Habibie…. no comment aja dech.
Praditya // Januari 19, 2008 pada 9:03 am |
Repp: Ke menu “Options” –> “Discussion”
Trus di bagian “Before a comment apears”, jangan centangi kotak 1 dan 3
Smoga membantu…
neorhazes // Januari 19, 2008 pada 11:10 am |
hhm..
untunglah pak habibie berjiwa besar..
walaupun begitu, harusnya cendana ngargain dong kedatangan pa habibie..
jarang2 habibie ke indonesia…
jangan mentang2 cendana dendam gara2 habibie nangkep soeharto ..
swt -__-;, perpolitikan cincong di indonesia memang aneh..
padahal deket loe pak harto dan habibie.
sampai dijadikan wapres begitu!
Arsyad Salam // Januari 19, 2008 pada 12:13 pm |
Mungkin keluarga Cendana masih menyimpan luka masa lalu… saat Habibie mengganti Soeharto…..
Kasian Pak Bj jauh2 dari Jerman datang ke mari tapi tak bisa bertemu Pa Harto…
Salam
brigita // Januari 19, 2008 pada 2:00 pm |
When love and hate collide…Suharto Sayang…Suharto Malang.
kayaknya sih endingnya bakalan lama deh…serial sakitnya Suhato ini. Abis masih belum selesai ngitungin utang-piutangnya. Kasian ya..mo mati aja susah banget.
RETORIKA-1000DS // Januari 19, 2008 pada 6:00 pm |
Kita nggak tau apa yang sebenarnya terjadi disana, toh mereka punya alasan tersendiri mengapa mereka menolak kehadiran habibie ke dalam ruang perawatan soeharto.
Toh mungkin bagi keluarga cendana, yang penting adalah kebaikan dan kesembuhan soeharto. jangan terlalu sinis, toh kita cuma bisa mengira2 mengapa demikian adanya gitu
goyangan // Januari 19, 2008 pada 11:24 pm |
makanya saya males untuk njenguk eyang harto
GiE // Januari 20, 2008 pada 4:13 am |
#Ina
dengan posting ini saya nggak bermaksud mendiskreditkan apalagi menjelek-jelekkan keluarga Cendana.
Coba baca penggalan kata “..semestinya..”, dengan kata itu saya membuat spekulasi diatas berdasarkan fakta yang ada, gitu…
#Praditya
ok, thx boss!
#neorharzes
iya, untung BJH berjiwa besar
#Arsyad Salam
iya, mungkin begitu..
salam balik
#brigita
makanya, stay tuned…
#RETORIKA- 1000DS
maka, saya pun berspekulasi.
#goyangan
bergoyang terusss….
danalingga // Januari 20, 2008 pada 5:23 am |
Memaafkan nggak perlu alasan bro. Jadi memaafkan pak harto ndak ada hubungannya dengan keluarga cendana yang tidak memaafkan habibie. Jadi memaafkanlah kalo bisa memaafkan, ndak usah pake alasan.
nixfar // Januari 20, 2008 pada 5:42 am |
Payah juga cendana.
Masa’ ada tamu engga’ disambut…… bahkan tamu dari luar negeri lagi…….
Dan tamunya bukan tamu biasa…..
Kyk orang katrok aja……. seandainya mereka bertamu ke rumah orang terus kagak disambut, emngnya seneng….???
Menurut ane sih kagak etis n sopan…….
Untung aja p’ habibie sabar n berjiwa besar….. kalo engga’ tuh…hmm…. tau kan selanjutnya
brainstorm // Januari 20, 2008 pada 7:11 am |
saya Hormat sama Pak Habibie.
Mihael "D.B." Ellinsworth // Januari 20, 2008 pada 8:44 am |
Sudah kuduga, bahwa Keluarga Cendana memang dibesarkan dengan harta. Mungkin saja kelakuannya tipikal orang kaya yang ada di sinetron – sinetron itu.
realylife // Januari 21, 2008 pada 3:27 am |
Jangan pernah berani menilai sesuatu , karena hanya Tuhanlah yang berhak menilai . Manusia bukanlah makhluk sempurna , ia tak pernah luput dari kesalahan , pun seorang Nabi .
Intropeksi dan memandang masa depan bagaimana itu lebih baik , jangan buang waktu percuma dan tersia – sia
GiE // Januari 21, 2008 pada 4:54 am |
#danalingga
saya sudah memaafkan dan melupakan, tanpa alasan
#nixfar
tamu2 dari malaysia malah disambut hangat oleh keluarga cendana.
#brainstorm
saya lebih hormat lagi…
#Mihael “D.B.” Ellinsworth
katanya, katanya nih… keluarga cendana sahwat hartanya gede loh…
*ngutip komentar orang lain*
#realylife
*tertunduk merasa bersalah*
terimakasih centilannya.
Andrew Anandhika Wijaya // Januari 23, 2008 pada 12:13 pm |
*talk to hand*
GiE // Januari 23, 2008 pada 12:21 pm |
betul, mas..
itu memang hak mereka
realylife // Januari 27, 2008 pada 11:14 am |
terima kasih sudah mapir dan silaturahmi di blog saya hari ini
Fifi // Januari 27, 2008 pada 5:18 pm |
saya suka artikel kamu. pas lage search aja…eh…kebaca blogs kamu.
cara penyampaian tulisan nya jga bagus. short but to the point ama analisis yang mungkin benar.
menurut gue, bukan suharto yang korup, tapi selir selir anak anak suharto, seperti mayang sari and model yang selingkuhan tomies and …..suharto kalo boleh di bilang….hanya bisa tarik napas kali.
kalo gue baca suharto itu dari kerluarga broken home yah? dia gak pernah kenal bapak asli atau kasih sayang seorang emak?
makanya kenapa dia bener bener sayang ama bu Tien….karena dia mau pernikahan hanya sekali saja.
tapi…mungkin tulah and hukum karma yang pernah di lakukan ama orang tuanya kembali terjadi ama anak anaknya ?
i dont know….kadang kita hanya bisa menghakimi tanpa tahu perasaan orang itu….
sorry kalo koment gue banyak…peace
purmana // Januari 28, 2008 pada 10:18 am |
Ehm, mau nanya nih gimana sikap kamu tentang wafatnya Soeharto…. apakah dia layak diberi maaf dan segala proses hukumnya sudah dianggap selesai (diridokeun wae) atau tetap menuntut pengusutan terhadap kasus2 yang terdahulu. Gimana menurut kamu Bro ??? Soalnya saya merasa hanya dengan memaafkan saja sih bukannya menyelesaikan masalah, tapi memendam masalah lama.
GiE // Januari 28, 2008 pada 3:09 pm |
#realylife
sami-sami, mas…
#Fifi
jangan bosan berkunjung yaaa..! sekali2 bikin blog kamu sendiri. OK?
hohoho… nyasar dari friendster ni yaaah… hehehe…
makasih atas penilaiannya, fi..
saya pikir memang begitu, fi.. bukan alm. Pak Harto yang korup, tapi kroni2nya yang berada dibalik kekuasaan alm. Pak Harto.
#Purnama
saat ini saya sedang menganalis artikel baru terkait tentang status hukum alm. pak harto. tapi, intinya saya sebagai Muslim dengan tulus memaafkan alm. Pak Harto atas segala kesalahan dan kekhilafannya di masa lalu.
Selengkapnya baca http://gielardino.wordpress.com/2008/01/29/keadilan-tidak-boleh-mati/
deethalsya // Januari 29, 2008 pada 9:35 am |
keluarga Cendana??!
kacian pak BJH..
*udah keluar ongkos dan waktu gitu*