Budaya Makan Dengan Tangan

Beberapa tulisan saya akhir-akhir ini didapat tidaklah jauh dari event Batagor Bebersih Bandung Jilid Dua kemarin. Dimulai dengan membuat laporannya, kemudian blak-blakan curhat tentang status “Jomblo” yang terinspirasi saat saya memperkenalkan diri ke rekan-rekan blogger sekalian (kebanyakan lajang kali ya? :D ) tapi disambut dengan gelak canda tawa karena dikiranya saya mau cari pasangan :lol: dan itu yang memotivasi saya untuk menumpahkannya dalam kategori Curhat.

Sekarang masih ingat jelas bayangan dalam benak saya saat menjalani acara makan-makan bareng sesama blogger yang datang dari berbagai penjuru kota itu, berkumpul dalam satu ruangan. Ada rasa kekeluargaan yang nyaman dalam kebersamaan, errr… Apa namanya? Pada saat makan-makan, saya melihat ada satu kesamaan yang menonjol dari semua blogger yang ikut makan, meski mereka semua datang dengan membawa berbagai ragam budaya atau kebiasaan dari kota asalnya. Tapi disini ada satu budaya yang ditunaikan sehingga nampaklah semua orang memiliki kedudukan, derajat dan status sosial yang sama dalam acara itu.

“Setiap bangsa di dunia ini punya budaya tersendiri.”

Makan adalah satu perkara yang wajib dalam hidup, cara makan juga merupakan satu budaya. Masing-masing bangsa memiliki budaya mereka tersendiri bagaimana cara mereka makan. Contohnya orang Cina makan menggunakan sumpit, sedangkan orang Barat terbiasa makan menggunakan sendok dan garpu. Setiap tindakan pasti ada tujuan, tentu ada alasan yang rasional kenapa mereka makan dengan cara tersebut.

Orang Melayu dan kita, orang Sunda, biasanya makan menggunakan tangan kanan. Apa sebabnya kita makan dengan tangan? Adakah alasan rasional yang bisa diterima akal? Saya tidak tahu darimana budaya ini berasal, tapi ada satu cerita dari negeri yang belakangan pernah dicerca karena membajak budaya bangsa Indonesia dan kita tak usahlah memperdebatkan lagi hal tersebut. Cerita ini dituturkan oleh seorang isteri pegawai tinggi Inggris yang pernah tinggal di Selangor pada masa itu dalam bukunya “Chersonese – The Guilding Off” oleh Emilly Innes.

tangan_makan.jpg

Di penghujung abad ke-19 ada seorang kerabat dari Raja Kedah yang menetap di Selangor yang bernama Tengku Kudin. Pada suatu hari Tengku Kudin dijemput oleh British Resident untuk menghadiri satu jamuan makan malam didalam rumah residen tersebut. Ketika semua tamu jemputan telah berada ditempat untuk menyantap hidangan, tiba-tiba Tengku Kudin bangun menuju ke arah keran air untuk membasuh tangannya. Tanpa menghiraukan orang lain yang semuanya menggunakan sendok dan garpu, beliau dengan lahap menyuap makanan ke dalam mulutnya menggunakan tangan!

Tingkah polah Tengku Kudin ini diperhatikan oleh seorang wanita Inggris yang kebetulan duduk di sisinya. Merasa tertarik dengan perlakuan Tengku Kudin itu wanita tersebut kemudian lantas bertanya : “Kenapa anda makan dengan tangan? Bukankah menggunakan sendok dan garpu itu lebih bersih dan lebih sopan?”

Tengku Kudin menjawab dengan suara lantang sehingga tamu-tamu lain dapat mendengarnya. Beliau menjawab, “Saya makan dengan menggunakan tangan sekurang-kurangnya ada tiga sebab. Pertama; Saya tahu tangan saya lebih bersih dari sendok dan garpu sebab saya sendiri yang membasuhnya bukan orang lain. Sendok dan garpu itu dibasuh oleh orang lain yang belum tentu cukup bersih. Kedua; Saya yakin tangan saya lebih bersih karena tangan saya hanya saya seorang saja yang menggunakannya – tidak pernah dipinjam pada orang lain, sedangkan sendok dan garpu itu banyak orang berbeda-beda yang pernah menggunakannya. Ketiga; Saya percaya tangan saya lebih bersih karena ia tidak pernah jatuh dalam longkang!”

Jawaban Tengku Kudin ini membuat semua orang yang mendengarnya tertohok. Kalau sebelum itu diantara mereka ada yang tersenyum sinis melihat Tengku Kudin menyuap makanan dengan tangannya tapi selepas itu masing-masing orang mengangguk, mungkin karena mereka berpikir bahwa jawaban tersebut memang benar masuk akal.

Zap!™ Budaya makan dengan tangan adalah salah satu kesamaan yang tampak pada acara makan-makan kopdar kemarin. Sehingga memunculkan impressi bahwa pangkat, derajat, status sosial, kedudukan, dll. Semuanya tidak berlaku! Semua orang sama, meski banyak perbedaan mencolok yang bercampur baur didalam persamaan. Itu semua tak lain adalah untuk menegaskan bahwa perbedaan ada untuk mendatangkan keindahan melalui persamaan.

Dari cerita diatas kita bisa memetik pelajaran moral, bahwa kita jangan mengejek atau memandang remeh perlakuan orang lain yang berlainan dengan budaya kita. Masing-masing ada alasannya kenapa mereka berbuat seperti itu.

Bukankah begitu?

About these ads

  1. p4ndu_454kura
    Memang lebih nikmat pake tangan, coz bisa ngejilat sisa makanan yang nempel di jari… :P

    tehaha
    Saya juga malah kikuk kalo makan pake table-manner,,,
    iya.. lebih enak pake tangan..

    chatoer
    Kuring teaaaa atuh.. pengikut setia Rasululloh… ;)

  2. Gie wawasannya luas ya :D

    Sama nih, saya enggak terlalu suka kalau terpaksa pake table manner, yang ada makannya malah jadi gak terlalu nikmat lagi. Tapi tergantung makanannya juga deng, masa makan sayur sop pake tangan? :lol:


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s