BLOGIE

Perempuan

April 26, 2008 · 12 Komentar

Saya termasuk ke dalam orang-orang yang percaya bahwa jenis kelamin bukanlah pilihan. Bahwa menjadi laki-laki atau perempuan adalah takdir. Terlahir dengan salah satu label jenis kelamin, artinya menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar lagi akan hak dan kewajiban manusia sesuai dengan labelnya masing-masing.

Jenis kelamin adalah sebuah keniscayaan. Maka, sudah seharusnya ini tidak menjadi suatu “barang” yang “harga”-nya dipermasalahkan apalagi sampai diributkan. Toh, setiap jenis kelamin sudah terbentuk lengkap sesuai dengan kodratnya. Kodrat menjadi hal yang dirasakan, disadari, dipikirkan, dan tentunya dimanfaatkan bukan untuk dipermasalahkan.

Laki-laki dan perempuan mempunyai satu perbedaan yang mutlak. Saat duduk di bangku SD, saya sempat percaya bahwa semestinya laki-laki dan perempuan sama dalam segala hal, apalagi diperkuat dengan bahasan Kartini yang tercetak di buku IPS kala itu. Sebagai seorang murid SD yang masih disuapin, saya dapat menelan perkara tersebut bulat-bulat. Namun, berbarengan dengan isu gender yang melulu mengambang di permukaan, mau tidak mau saya melihat, mendengar, merasakan dan akhirnya kepikiran juga.

Sampai saat ini jeritan para aktivis perempuan masih terus menggema dimana-mana. Rata-rata menuntut persamaan hak dan kesejajaran dengan laki-laki. Yang bener aja nih, perempuan kepengen sejajar dengan laki-laki? Kalau jawabannya iya, berarti para perempuan harus sudah siap dengan segala perubahan besar yang bakal menjadi konsekuensi yang sebetulnya lebih pas disebut sebagai resiko dari kesetaraan gender.

Sederhananya gini lho, kalau perempuan ingin disejajarkan dengan laki-laki, perempuan harus sudah siap untuk merelakan hilangnya semua fasilitas dan layanan dari para lelaki seperti yang sudah-sudah. Artinya, perempuan nggak boleh nuntut segala macem untuk menjadi prioritas sebagaimana yang disebutkan istilah “wanita duluan” atau “ladies first”, perempuan juga harus siap menghadapi laki-laki yang bisa aja sekonyong-konyong nangis bombay, pasalnya aturan “boys don’t cry” secara otomatis terhapus, selain itu nggak bakalan ada lagi yang namanya cowok wajib nganter jemput ceweknya kalo mau ketemuan, apalagi ngebayarin tiket nonton plus makan-makan pas lagi ngedet. Sebetulnya ada banyak contoh resiko lainnya, tapi intinya adalah bahwa perempuan harus seratus persen siap untuk bertanggung jawab penuh atas perlindungan diri sendiri yang selama ini menjadi tanggung jawab laki-laki. Lebih parah lagi kalau sampai terjadi fenomena “Perempuan Berkuasa”.

Seorang perempuan yang berkeinginan menjadi pemimpin sudah seharusnya bertanggung jawab dan menjadi pelindung bagi setiap orang termasuk laki-laki. Jadi kalau begitu, kira-kira perempuan siap nggak nih?

Sebenarnya diposisikan sebagai perempuan masa kini sangatlah nyaman, jeng! Ada indikasi yang menunjukkan bahwa emansipasi yang berlaku di masyarakat kayaknya udah terlalu berlebihan deh. Atau lebih pas kalau disebut sebagai emansipasi standar ganda.

Dalam diri banyak perempuan, tampaknya ada dua sisi yang saling berlawanan. Di satu sisi perempuan telah meraup porsi yang sama banyaknya dengan apa yang laki-laki miliki, tapi di sisi lain perempuan tetep keukeuh pisan menebar tuntutan-tuntutan beraroma feminisme yang notabene pada dasarnya bertentangan. Jadi, kalau pun mau ada acara emansipasi-emansipasian lagi, mestinya giliran laki-laki yang menuntut.

Ah, tapi untuk apalah laki-laki menuntut emansipasi? FYI, saya pernah membaca beberapa ayat dari dua ajaran agama yang berbeda mengenai perkara “Perempuan Berkuasa” ini, dan ternyata bunyinya berada dalam kadar senada. Intinya menyatakan bahwa laki-laki ada untuk memimpin dan melindungi sebagaimana perempuan ada untuk mendampingi dan disayangi. So, laki-laki ataupun perempuan tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan pada masing-masing jenisnya, dan tampaknya perbedaan itulah yang menjadi alasan mengapa Tuhan menciptakan manusia berpasang-pasangan. Apalagi kalau bukan untuk saling mengisi ruang kosong yang tersisa dalam setiap jiwa manusia. *cieh… melankolis*

Nyesel terlahir jadi lelaki? Atau nyesel menjadi perempuan? Bersyukur sajalah. Karena kalaupun Tuhan memberikan kebebasan kepada manusia yang akan dilahirkan untuk memilih jenis kelaminnya sendiri, pasti setiap orang akan pusing nguliling tak berujung menimbang-nimbang dan menghitung untung-ruginya menjadi seorang laki-laki atau perempuan.

Maka sesungguhnya beruntunglah kita hanya dibekali satu jenis kelamin saja saat lahir ke dunia, bukan tanpa satu pun atau malahan dapet JACKPOT kedua-duanya.

Kategori: Artikel
Tagged: , , , ,

12 tanggapan so far ↓

Tinggalkan sebuah Komentar

  • Kunjungan

    • 58,228 orang telah berkunjung
  • Spam

  • RSS Ngeplurk

    • gilangramadhan bertanya-tanya favicon facebook kok jadi beda ya?
    • gilangramadhan capek. Badan pugal pegel semuanya, abis maen parkour euy.
    • gilangramadhan sebentar lagi mau makan.
    • gilangramadhan tiba-tiba kangen ngeplurk. Huhu... Bolehkah aku ngeplurk lagi, kawan?
    • gilangramadhan sedang apdet databes anti virut...
    • gilangramadhan sedang frustrated...
    • gilangramadhan bilang Kucing! Mouse-ku yg rusak kemaren itu ternyata gara2 kabelnya digigitin tikus ndeblek! Pantesan aja ih rusaknya mndadak... *ngakak*
    • gilangramadhan akan Memulai semuanya dari awal... ~_~
    • gilangramadhan bilang regedit, msconfig, help center, task manager, boot safemode, semuanya dimatiin malware. Ini virus apa sih? Ada yg pny solusi gak?
    • gilangramadhan baru saja menonton video tentang Hari Kiamat. Realistik banget ilustrasinya...
  • Halaman

  • Long Road To 2009

    April 2008
    S S R K J S M
    « Mar   Mei »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    282930  
  • Meta