Bencana Itu Bernama: Manusia!

Bencana Manusia

Bencana Manusia

Alam, sebenarnya telah diciptakan dengan sistem pengelolaan yang selaras dan seimbang. Sempurna, nyaris tanpa cacat. Tetapi kenapa bila di sekitar kita terjadi banjir, longsor, gempa bumi dan lain-lain kita masih menyebutnya sebagai bencana alam. Apa memang alam yang menghasilkan dan menyebarkan bencana? Apa memang dari alam semua bencana itu bermula? Apakah memang benar begitu?

Banjir – terjadi karena memang wilayah resapan yang seharusnya menjadi tempat penampungan air, terampas. Saluran yang seharusnya digunakan untuk mengalir itu, terhambat dan mampat. Dus, bila tanah tak lagi kuat membendung, tumpahlah air menuju daerah yang dihuni rumah-rumah tak bersalah, sekalipun belum pernah terjamah. Musibah tak mengenal belas kasihan. Wilayah yang sebelumnya adalah lintasan air, tiba-tiba aja berdiri bangunan-bangunan pencakar langit nan megah. Dan ketika bangunan-bangunan itu dilalui air, kita menyebutnya banjir. Padahal memang seharusnya disanalah air mengalir.

Longsor – terjadi karena memang tanah sudah nggak mampu lagi berpegangan erat dengan ikatan tanah yang lain. Ketika hujan tiba, maka tanah meluncur menggempur rerumahan dan menelan korban. Manusia telah lalai mengelola tanah yang dikeruk dan ditumpuknya, sehingga berakibat fatal.

Bahkan ketika gempa bumi terjadi, konon tangan manusia ikut berandil. Beberapa ahli menduga gempa diakibatkan oleh perbuatan manusia, juga. Fakta! Gempa bumi dahsyat yang terjadi di Sinchuan disebabkan oleh hasrat China yang berusaha membangun dam terbesar di dunia, untuk sistem pengairan sepanjang tahun. Air dengan volume sangat besar, tak selamanya mampu ditahan oleh daratan. Lempeng bumi pun bergeser dan terjadilah gempa yang mengerikan.

Belum lagi ditambah dengan kabar buruk yang terjadi di seantero dunia. Saat ini, peperangan, kerusuhan, perebutan kekuasaan, dan rentetan tindakan amoral diluar batas kewajaran manusia – merata di segala sendi-sendi kehidupan. Di sistem sosial, politik, dan ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi, keseimbangan alam dan tata kehidupan.

Semua kerusakan-kerusakan itu terjadi ketika manusia mempertuhankan akan dan nafsunya sendiri lewat banyak cara dan fenomena. Mulai dari sosialisme yang berakar dari komunisme, sekularisme, kapitalisme, pasar bebas, rakyat bebas, hingga intelektual liberal. Semuanya bukan hanya berdampak buruk secara kontinyu, tapi juga telah gagal memberikan manfaat, gagal menyejahterakan umat, gagal melahirkan kehidupan yang lebih baik untuk seluruh makhluk bumi. Jelas, bila satu sistem krusial yang dianut dunia rusak, maka rusak pula semua komponen yang terikat dengan sistem itu.

Maka, jangan salahkan banteng bila tiba-tiba ngamuk menyeruduk perkampungan penduduk. Karena sulit mencari sumber penghidupan yang telah dirampas. Alam dan hutan sekarang semakin botak saja dari hari ke hari. Siapa yang tega menggunduli paru-paru dunia itu? Jangan salahkan alam!

Karena sebenarnya dalang semua itu adalah manusia. Ya, bencana itu bernama : Manusia!

Kalo sudah begitu, kita sepatutnya menyebut dengan bencana manusia, bukan bencana alam. Manusia-manusia serakah telah memproduksi bencana-bencana besar secara massif yang entah sampai kapan berhenti, seperti lingkaran yang tak berujung. Kapan semua itu berhenti? Dan seringkali golongan lemah adalah golongan yang paling awal merasakan bencana. Parah!

Dahulu pada zaman amirul mukminin Umar bin khattab memimpin, terjadi gempa besar di salah satu kekuasaannya yang sangat luas. Gempa dan bencana ini menelan banyak korban jiwa. Umar RA. menjenguk wilayah tersebut, bertemu dan mengumpulkan penduduknya. Kalimat pertama yang keluar dari bibir umar bukanlah ucapan belasungkawa, tidak pula kata-kata empati. Tapi, pernyataan pertama yang keluar dari Umar RA. justru ajakan untuk introspeksi diri.

“Wahai semua dari kalian, apa yang telah kalian perbuat? Maksiat apa yang telah kalian lakukan, hingga Allah menurunkan peringatan sedemikian rupa? Hingga Allah menurunkan musibah segini dahsyatnya?”

Nah, pertanyaan serupa patut kita tanyakan pada diri kita sendiri. Kita tanyakan pada seluruh penduduk negeri ini. Kita tanyakan pada para pejabat dan pemerintah. Kita tanyakan pula pada para ulama dan cerdik cendekia, kelalaian apa yang sudah kita lakukan? Amanah apa yang tidak ditunaikan hingga Allah mendatangkan musibah secara bertubi-tubi. Memperingatkan penduduk Indonesia dengan bencana-bencana alam manusia yang membuat manusia itu sendiri menderita dan merana.

Benarlah apa yang dikatakan Al-Qur’an :

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri,…” QS. Asy-Syuura : 30

7 responses to “Bencana Itu Bernama: Manusia!

  1. manusia telah diciptakan dengan sebaik-baik kejadian
    kemudian direndahkan Allah sengan serendah-rendahnya
    karena tidak bisa bersyukur

    salam kenal dari : http://myrazano.com

  2. lho, apa salahny sosialis dan komunisme? justru dengan runtuhny paham tersebut, membuat dunia goncang. terlebih lagi setelah mereka distereotipekan oleh pandangan kapitalis.

    dengan membuat manusia kembali ke komunitas kecilny, yang konon inilah azas utama dari komunisme dan sosialis, membuat mereka justru bisa lebih arif lagi menjaga alam dan sifat kemanusiawiannya mereka. seperti yang masih dilakukan oleh beberapa suku pedalaman di indonesia.

    oh yah. pembangunan sebenarnya ngak masalah, selama itu terarah dan tetap berparadigma lingkungan. tak masalah gedung pencakar langit dan pemukiman dipadati penduduk. tetapi, seharusnya mereka juga menjaga beberapa area vital yang berpotensi menyebabkan bencana.

  3. @myrazano
    Karena itulah manusia disuruh Allah agar selalu bersyukur
    Supaya derajatnya diangkat setinggi-tingginya
    Salam kenal juga, mas.. :)

    @Yudha P Sunandar
    Nggak ada yang salah dengan sosialisme dan komunisme selama paham tersebut nggak merugikan orang banyak baik secara fisik atau moral. Saya bilang, “sosialisme yang berakar dari komunisme” maksudnya kalo sosialisme itu berpijak pada paham komunisme, berarti kata “sosialis” itu kehilangan esensinya dong, yud? Karena sosialis dan komunis itu kan dua paham yang sangat bertolak belakang, nggak bisa dicampur. Apalagi diaduk, kayak air dan minyak. Air, ya air. Minyak, ya minyak.

    Gitu juga dengan sosialis dan komunis. Paham-paham tersebut punya jalannya masing-masing. Yang membedakannya adalah kalo sosialis menjunjung tinggi kemanusiaan dan punya Tuhan, sedang komunis sebaliknya – menjunjung tinggi kemanusiaan tapi nggak punya Tuhan. Memang benar, meskipun sebagian orang ada yang berpaham komunis tapi mampu mengelola alam dan sifat kemanusiaannya dengan baik. Tapi, sayang sebagian besar yang lainnya nggak seperti itu.

    Bukankah paham yang memiliki Tuhan lebih baik daripada yang tidak punya Tuhan? Logikanya begini, ada orang yang memiliki pembimbing dan orang yang nggak punya pembimbing. Jika orang tersebut berbuat salah dan dia bimbang apakah perbuatan itu salah atau benar? Maka dia mengadu kepada pemimbingnya untuk diminta mengingatkan/mengoreksi perbuatannya bila salah. Sebaliknya, bila kita berbuat salah sementara kita nggak punya pembimbing. Siapa yang akan mengoreksi dan mengingatkan kita? Kalo sudah begitu, ketika dia bingung harus mengadu kepada siapa, lantas mempertuhankan akal dan nafsunya sendiri. Maka yang terjadi, ya seperti posting diatas. Diperingkatkan dengan berbagai macam bencana dahsyat oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.

    Gitu, yud… CMIIW.

    Nah, kalo soal pembangunan yang terarah dan berparadigma lingkungan itu. Betul, saya setuju. Tapi, terkadang manusia itu serakah, yud. Selalu berlaku egois dan lalim terhadap alam dan juga kepada sesamanya…

  4. Huhu… Tapi anehnya kita yang sudah berkali-kali diingatkan dengan bencana itu tetap saja tidak menyadari dan merubah diri yah. Uhuhu…

  5. @adit-nya niez
    Bener, dit. Semut di seberang laut tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak. Barangkali seperti itulah paribasa yang terjadi pada bangsa ini.

    Seharusnya peringatan-peringatan bencana diatas dijadiin kritik diri untuk berubah. Kita mudah mengeritik orang, orang lain pun begitu. Tapi kita kayaknya susah untuk mengaku salah dan mau mencoba untuk berubah. Perubahan yang kita inginkan memang bukan perkara mudah. Apalagi alam dan manusia Indonesia sebenenarnya sudah dirusak lama-lama dan rame-rame, jelas pemulihannya juga kudu lama-lama dan rame-rame pula.

    Proses perubahan nggak selalu menyenangkan, menguras waktu. Bahkan banyak resiko dan rintangan yang mesti dihadapi. Namun bila semua itu dimulai dari satu langkah kecil, itu masih lebih baik daripada nggak sama sekali. Meskipun pelan, tapi pasti. Terkadang perlu juga *shock* therapy yang menyakitkan, nggak hanya untuk penyakit jasmani, tapi juga penyakit hati.

    Karena kerusakan yang ada di Indonesia sekarang ini, didominasi oleh kerusakan yang berawal dari penyakit hati…

  6. punya data tentang komunisme yang atheis…???
    komunisme dan sosialis memang satu akar. perbedaannya seperti neo-liberalisme dan liberalisme sendiri. tipis.

    komunisme adalah tak bertuhan merupakan dokrin orde baru untuk meruntuhkan kekuatan komunisme di indonesia. pada kenyataannya, komunisme justru lebih menghargai kaidah beragama dari pada neo-liberalisme yang sebenarnya tidak bertuhan. materialistis. ini terlihat dari sains yang mereka kembangkan.

    faktanya, komunisme adalah struktur budaya ketimuran. menjunjung tinggi nilai ketuhanan dan kelompok. bahkan, dalam beberapa kasus, nilai2 dalam komunisme, terdapat juga dalam nilai2 islam.

    please, belajar dulu sosiologi. baru boleh menuduh paham2 tertentu sebagai tidak bertuhan atau bertuhan…

  7. Ping-balik: Nikmat Mana (lagi) Yang Kamu Dustakan? « BLOGIE

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s