Exlusive Report : Wilujeung Sumping, Kang Banjir… (UPDATE)

Wilujeung Sumping ti Baleendah, Kang Banjir…
Kumaha damang? Kok bisa telat 2 bulan?
Biasanya Februari akang mudik ke Baleendah nggak pake telat?
Belakangan ini arus mudik emang pada macet ya, kang?

*pertanyaan retoris mode turned Off*

Fuh.. Seperti yang saya duga sebelumnya saban kemarin kalau pada hari ini akan ditimpa banjir (lagi). Kecemasan saya ternyata memang terbukti. Baleendah kabanjiran gede deui! Banjir euy.. banjir deui..!!

Nggak disangka-sangka banjir gede bakal melanda rumah saya lagi, aneh memang sebelumnya saya menduga akan ditimpa banjir kayak gini tapi ini malah tidak mempersiapkan segala sesuatunya untuk mengantisipasi bencana itu. Saya pikir ah mungkin banjirnya kecil-kecilan saja eh ternyata Kang Banjir sekarang dah pada mudik bareng, tanggung deh sanak keluarga sekalian pada datang. Menduga tapi tak mengantisipasi, payah. Ya abis lelah sih… Huh.. Mangkanya saya bikin exlusive report ini, beneran deh repotnya eklusif! He.. he.. Selain harus melayani Kang Banjir yang datang bertamu satu kali setahun ini saya juga harus repot-repot menyelamatkan barang-barang di rumah ini. Ditambah lagi repotnya nyuri-nyuri waktu buat bikin ni cerita.

Dari waktu magrib sampai pukul sembilan malam, gigi saya masih saja bergemeretak memegang ponsel sambil meredam geram meladeni si mbalelol yang ngomongnya mulai berubah kasar lewat pesan sms. Maunya nggak digubris, malas soalnya. Tapi perlahan-lahan omongannya bener-bener mengiris hati, miris sekali rasanya. Untunglah saya sanggup merespon kekasaran dia dengan kata-kata yang santun. Ya, ah sudahlah. Kok membawa-bawa si dia melulu sih? Jadi ndak nyambung deh…

Pukul setengah sepuluh malam kurang lima menit, saya merebahkan diri diatas teras yang beralas matras. Melepas penat dan amarah bercampur lelah, telentang diganjal satu bantal tanpa memakai selimut yang terlipat rapi tepat di bawah kaki saya. Ingin sekali rasanya jiwa ini cepat-cepat meninggalkan tubuh menuju alam angan di seberang sana. Benar saja seketika itu saya langsung terlelap dengan pulas hanya dengan satu pe-nguap-an.

Tapi sayang, berselang satu jam kemudian tubuh saya terasa bergoyang, “Hudang, gie.. Hudang! Burukeun ieu banjir!” teriak nyokap serak sedikit memaksa. Saya yang lagi menikmati suntuknya tidur, menggeliat malas, tidak mau bangun. “Plak!β„’” tangan nyokap mendarat di lengan saya. “AW!” Rasa sakitnya singkat membuat saya tersentak bangun kemudian beranjak duduk. Mata saya masih merem melek mencoba menahan kantuk. Setelah membelalakkan mata saya melihat air berwarna coklat sudah menggerayangi pelan-pelan di sekitar matras yang saya duduki. Ah, masa bodoh. Tak saya pedulikan.

Saya melenggak gontai ke ruang utama, eh nggak taunya air udah nyampe setumit. Yah, baru aja tidur sejam disuruh beres-beres lagi sama nyokap. Huh.. Saya ogah-ogahan, abis lemes banget sih. Trus, tidur-tiduran dulu, nyenderin kepala seenak udelnya dimana-mana. Hmm nyaman, mending diterusin aja deh tidurnya. Melihat gelagat yang tak bersahabat ini nyokap langsung kalap memaksa saya kerja rodi, tak peduli lemes atau nggak, ngantuk atau nggak pokoknya selamatin tuh barang-barang. “Huwaa.. Ampun, ma ampun. Iya deh iya..”. Akhirnya saya nyerah dan terpaksa ngemban tugas beberes dan nyelamatin barang-barang yang nampak di muka dengan raut wajah yang kesel.

Jarum jam menunjukkan pukul 12 lewat dan saya masih sibuk menyelamatkan barang-barang meski digelayuti rasa kantuk, penyelamatan tetap jalan. Tapi ada beberapa barang yang dibiarkan terendam banjir, karena tak sempat diselamatkan. Contohnya karpet, selimut, matras, kursi, beberapa pakaian, dll. Ada barang yang merupakan sahabat sekaligus musuh saya selama 15 tahun lebih tetap di tempatnya menemani hidup saya selama ini dan nahas saya telat menyelamatkannya. Dia adalah Saba. Tipi jadul hasil uang khitan saya, he..he.. sekarang kondisinya sedang kritis kena air. Mudah-mudahan deh nggak wafat. Doain ya..πŸ˜†

Jam demi jam di malam kelam yang dingin dengan cepat saya lalui, tak terasa rasa kantuk sudah menghilang. Otomatis mata saya terjaga sepanjang malam. Dan jam-jam seterusnya saya tetap dan terus terjaga hingga fajar pun menyingsing. Air sudah mencapai ketinggian pinggang saya, itu baru di dalam rumah saya. Sementara di luar, kedalaman airnya bervariasi dari yang selutut sampai mencapai kepala saya, bow! Ck..ck..ck.. rajin banget tho air banjir merangkak naik.πŸ˜†

Sekarang saya, keluarga saya dan orang-orang lainnya dalam radius 100 KM yang terkena musibah banjir ini secara tidak resmi telah menjadi tumbalnya si Akang Banjir. Nah, untuk itu bapak-bapak, ibu-ibu dan sodara-sodari yang budiman. Yuk mari kita do’akan supaya si Akang Banjir ini tidak menularkan penyakit-penyakit yang serius kepada para korbannya, jadi diharapkan para korban bisa sehat-sehat kembali seperti sediakala sampai Kang Banjir pamitan meninggalkan kita. Semoga para korban banjir dapat melalui bencana ini dengan sabar dan tabah serta memetik hikmah yang terselip dibalik musibah ini. Amin.

Berikut oleh-oleh yang dibawa oleh Kang Banjir :

Hening Yang Menghanyutkan

Si Manis Si Akang Banjir Dari Jembatan Ancol Citarum

Terendam Itu Mencekam

Banjir Menghadang, Nafkah Digalang

Tak Ada Angkot, Perahu Pun Jadi

Mogok yo, mas… Ane bantuin dorong ye.. Ikhlas kok

SPBU – Stasiun Penampungan Banjir Umum

Bangkai yang terbengkalai

Demikian laporan ini saya buat dengan sebenar-benarnya.


UPDATE : Banjir Baleendah Juga Diliput Koran Lokal, Radar Bandung. Berikut berita lengkapnya.

SATU SETENGAH METER: Banjir di Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung kemarin, ketinggiannya mencapai satu setengah meter. Banjir tersebut diakibatkan hujan lebat beberapa hari ke belakang.

4.523 Rumah Terendam Banjir

20 Bangunan SD Rusak

BANDUNG-Kecamatan Baleendah Kabupaten Bandung kembali terendam banjir, kemarin. Ribuan rumah warga di Desa Andir, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung terendam banjir dengan ketinggian air mencapai dua meter. banjir melanda 10 RW, sedangkan tiga RW di antaranya tidak dilanda banjir.

Saat ini warga memilih mengungsi ke tempat-tempat yang lebih aman. Namun, ada juga yang bertahan di rumahnya masing-masing.

Korban banjir juga belum mendapatkan bantuan makanan dari pemerintah setempat. Selain melanda kawasan tersebut, banjir juga menggenangi wilayah Dayeuhkolot, Bojongsoang, dan Majalaya.

Kusnadi (60), warga Kampung Jembatan RT. 02 RW. 09, Desa Andir, mengatakan air mulai naik sejak Senin (7/4) malam sekitar pukul 23:00. Air meluap setelah hujan lebat turun cukup lama sejak sore hari.

“Kami tidak sempat menyelamatkan barang-barang berharga lainnya. Kami memilih menyelamatkan diri mencari tempat yang aman. Ketinggian air hampir membuat rumah terendam, malah di daerah yang sangat dekat sungai ada yang nyaris terendam air,” ujar Kusnadi sambil membawa perlengkapan dapur menyusuri jalan yang tergenang air, kemarin.

Pantauan Radar Bandung, tingginya genangan air mengakibatkan jalan raya Baleendah, Cibadak dan Cipatat terputus. Selain itu, 1.684 rumah tergenang banjir di Kelurahan Andir, dan 341 rumah di Kelurahan Baleendah. Ketinggian air bervariasi antara 20-120 sentimeter. Peristiwa tersebut juga mengakibatkan 10 hektare sawah di Kampung Andir, Desa Katapang terendam banjir.

Banjir kali ini bukan saja menimpa Kecamatan Baleendah, tapi 1.250 rumah ikut terendam di Kecamatan Dayeuhkolot. Di Kampung Babakan Leuwi Bandung RT. 6 RW. 14 Desa Citeureup, Kecamatan Dayeuhkolot, ketinggian air mencapai dada orang dewasa.

“Sejak Selasa dini hari kemarin, Sungai Citarum kembali meluap. Hal tersebut mengakibatkan warga mengungsi ke kantor RW, rumah sanak saudara serta kantor PLN Dayeuhkolot,” papar Jajang Yadin (36), warga setempat. Jajang menambahkan, bantuan makanan dan obat-obatan belum diterima warga. Warga Kampung Bojong Asih RT. 07 RW. 05 Kecamatan Dayeuhkolot juga mengalami hal yang sama.

Eef Syarif, Sekretaris Kecamatan Dayeuhkolot mengatakan, pihaknya telah menurunkan tenaga bantuan yang terdiri dari Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol-PP) serta Tim Penanggulangan Bencana Alam (Tagana). Selain itu, alat-alat bantuan seperti dua perahu karet untuk mengantisipasi banjir susulan.

Banjir lumpur juga mengenangi beberapa ruas jalan di Majalaya, sehingga mengakibatkan Jalan Laswi dan Majalaya – Rancaekek terputus pada pukul 22.0. Sekretaris Desa Majalaya, Lili Sadeli mengatakan, banjir disertai lumpur terjadi sekitar pukul 17.00, Senin (7/04). “Tiba-tiba air meluap pukul 17.00 mengakibatkan Jalan Laswi macet dan akhirnya lumpuh satu jam berikutnya, termasuk Jalan Majalaya – Rancaekek dan puncaknya sekitar pukul 22.00 ketinggian air mencapai dua meter, merendam Kampung Emper dan Kampung Atirompe,” kata Lili seraya menambahkan seluruh aktifitas belajar mengajar lumpuh.

Banjir, lanjut Lili, merendam 4.523 rumah di empat desa, yakni Desa Majalaya, Majasetra, Majakerta dan Sukamaju. Selain itu, akibat banjir tersebut 20 sekolah dasar dan sawah seluas 43 hektare rusak.

Sementara itu di Kecamatan Paseh, genangan banjir disertai lumpur setinggi satu meter setengah juga sempat merendam empat kampung, yakni Kampung Rancabali, Penggilingan, Mantri Cina, Kampung Pongor. Banjir tersebut menelantarkan 799 Kepala Keluarga (KK) serta merusak sedikitnya satu hektare sawah siap panen.

37 responses to “Exlusive Report : Wilujeung Sumping, Kang Banjir… (UPDATE)

  1. aduh turut berduka cep…
    beu matakna tong ngonang wae atuh, diusir kituh diusir hehe

    Gie BE mah da teu banjir, Dayeuhkolot nu biasa banjirmah sanes?

  2. waduh… padahal klo di itungan khan dah seharusnya musim kemarau yak

  3. aduh punteun Gie sendal kacandak banjir…cik pangnyandakeun atuh, keurmah ngan hiji hijina menang ngiridit haha

  4. duh.. moga semuanya baekΒ² aja..

    –wong njowo kih, ga mudeng boso sundo– heheheπŸ˜€

  5. amiin…

    pake rumah panggung atuh…
    minta tolong ma aki herry..
    hehe..

  6. Ada yg mo ikutan? Aki mo kesana nih

  7. @kang rumahkayu
    ga bisa ikutan ki, maaf

  8. @adek,
    Cukup dengan do’a saja. Semoga segera surut banjirnya dan ngga banjir2 lagi.

  9. smoga diberi kesabaran dan ketabahan…

  10. Mungkin Tuhan mulai bosan..
    melihat tingkah kita
    yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa..
    atau alam mulai enggan
    bersahabat dengan kita
    coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang

  11. blogger tanpa blogg

    *nggak fokus*

    weee…. gilang khitannya 15 taun lalu…

    kecil juga ya…

  12. hadu Gie… kok smalem ndak ngasi kabar siiiih…

    *ngambek*
    😦

  13. LieZMaya
    teu aya nu pupus, lis…
    muhun nya, nuhun..πŸ˜›

    duanana oge sami-sami banjir..πŸ˜€

    dobelden
    hu’uh iya seharusnya gitu..
    tapi Kang Banjir mau mampir dulu ke BE sebelum pamit..πŸ˜€

    LieZMaya
    sakitu wae meuni irit ih..
    abi mah leuwih parah deui, sapatu, sendal, baju, selimut, bantal, sareng sodara-sodarana kacandak banjir sadayana.

    huhu.. seudiii..πŸ˜₯
    tapi untung deh ada aki..
    kunjungannya sangat menghibur, sekaligus sebagai pelipur lara..

    hoho..πŸ˜†

    rani!
    sudah masuk dalam rencana renovasi rumahku kok..
    emang seharusnya rumah saya tuh dibikin panggung kaya konser..πŸ˜†

    rumahkayubekas
    hatur nuhun bin jazakumulloh atas kunjungannya ya, ki..πŸ™‚

    jadi karasa haneut awak teh kalo ketemu ama aki mah..
    heuheuu..πŸ˜€

    adek
    doakan saja kami ya..πŸ™‚

    Nelly
    amin.. terimakasih..πŸ™‚

    Koko
    Alangkah indahnya bila manusia selalu menengok kebesaran-Nya…
    Semoga dari musibah ini ada hikmah yang dapat dipetik..
    Amin..

    blogger tanpa blogg😳

    i..iya..

    he..heu…

    dru, blogmuh kemana seh?
    kok dihapus?

    Mrs. Fortynine
    ngg… maap, han..
    sinyal 3ku lagi lelet banget..
    jadi ndak sempet ngasih tau..
    sedang M3ku masih hiks..πŸ˜₯
    πŸ™„

  14. Ping-balik: rumahkayubekas » Blog Archive » Kadang Ngga Abis Pikir, Jaman Sudah Mutakhir, Tapi Koq Ya Hampir Setiap Tahun Sang Banjir Masih Aja Mampir,

  15. Ping-balik: Kadang Ngga Abis Pikir, Jaman Sudah Mutakhir, Tapi Koq Ya Hampir Setiap Tahun Sang Banjir Masih Aja Mampir, « rumahkayubekas

  16. wah,, memang,, kebanjiran tu ndak enak banget..!!

    selama aku di Jogja alhamdulillah belum pernah kebanjiran,, eh, giliran sekalinya maen ke Makassar,, bukannya liburan yang didapet,, malah ujan terus menerus,, plus banjir pula.. huhu..

    http://anginbiru.wordpress.com/2008/02/07/banjir-banjir-banjir/

  17. Weih… aku deket situ, rumah kamu sebelah mana? Masih banjir ndak? ntar tak sempetin mampir ke rumah

  18. smoga baik-baik aja, broπŸ˜•

  19. anginbiru
    betul mas.. ndak enak banget!
    kemaren, sepanjang siang saya mesti ngaler ngidul nyari tempat yang aman n nyaman buat istirahat. tapi sayang dimana2 ndak ada tempat yang nyaman, terpaksa deh saya rehat di atas seng lusuh berkarat yang belepotan lumpur… Mana aku kena pilek lagi.. Fuh…😦

    wah syukur ya..
    Kang Banjir ndak suka maen ke jogjah kali..πŸ˜€
    ada resepnya ndak tho, mas? He..he..

    deniar
    alhamdulillah berkat do’a temen-temen semua, sekarang banjirnya udah surut..
    aneh, biasanya kalo banjir gede kayak gini 3 hari sampe 1 minggu baru surut. tapi sekarang cukup 1 hari aja udah surut tuh.. syukur..syukur..

    tapi saya sekeluarga mesti kerja ekstra keras bersihin rumah yang berantakannya.. waaahh.. Pokonya PABALATAK deh! Banyak barang yang sudah jadi bangkai terbengkalai… perabotku tuh..😦
    hiks..πŸ˜₯

    edy
    lumayan fine..
    tapi pilek masih menyekat tenggorokanku mas..
    jadi masih terasa pengap (eungap ceuk urang sunda mah) n suara ane serak banget.. :S

    cape.. deh…😦

  20. blogger tanpa blogg

    OOT :

    dru, blogmuh kemana seh?
    kok dihapus?

    ritual tiap tiga bulan sekali tuh… blogg yang baru juga udah ada….

  21. wah karunya akang ogie, di doain kang, biar si kang banjirnya gak lewat lagih, BE DK, bandung selatan banjir mulu, itu emang daerah cekungan bandungr….
    *nyontek dari kantor

  22. Pindah ajah atuh ka Cileunyi… Biar jadi tetanggaanπŸ™‚ Bebas banjir, bebas macet, tapi belum bebas maling sihπŸ™‚

  23. Turut berduka cita Gie,
    Aduh sedih buanget liat itu banjir. Semoga kalian semua diberi kesehatan dan banyak berkah ya Gie
    Salam.

  24. Aneh.

    Saya berada di dekat Waduk yang notabene harusnya jelas dekat dengan sungai. Sampai sekarang (Puji Tuhan) belum banjir.:mrgreen:

    Tetapi tetap berbelasungkawa, atas kematian keadilan pada alam.😦

  25. moga2 gak banjir lagi besok, cukup sudah,
    besok2 moga2 aman2

  26. waduh…semoga tidak kenapa2…

  27. blogger tanpa blogg
    *OOT*
    mana, mana, mana sesajen baruna?πŸ˜†

    chatoer
    amin..amin.. nuhun du’ana, tur..
    ane memang berharap Kang Banjir nggak mampir-mampir lagi kesini..
    Tepat sasaran pisan! Ane baru mau bilang kalo BE, DK dan daerah2 di Bansel lainnya memang merupakan daerah cekungan. Jadi nggak aneh kalo banjir sering mampir bergilir disini..

    Ratna
    Dowh, Teh.. saya juga maunya pindah rumah sih. Pernah saya bilang ke si mamah, kita migrasi aja ke daerah palawija di Ciparay, kampung halamanna babeh saya. Tapi beliau tetep keukeuh ogah-ogahan, alesannya beliau nggak mau meninggalkan rumah yang sudah ditinggali seumur hidup ini. Ya sudah, ngalah. Kalo saya pindahnya sendirian, wah.. saya belum sanggup tuh.πŸ˜•

    Citra Dewi
    Amin.. amin..
    Makasih atas kepedulian dan do’anya ya, mbak Citra..

    Michael Ellinsworth
    Bersyukurlah kau jak… Bersyukur.

    Tentu ketidakadilan alam ini bukan kehendak dia sendiri melainkan dipicu oleh ketidakadilan manusia yang telah mengacuhkan alam.😦

    ketela
    amin..amin..
    *ngarep banget nggak banjir-banjir lagi*

    cewektulen
    alhamdulillah.. sekarang udah mendingan..
    makasih dah berkunjung dan berbagi peduli..πŸ™‚

  28. Alhamdulillah udah surut… mohon maaf gak jadi ke rumah Gie, tiba2 di calling dari semarang kudu pulang ke Semarang hari itu juga. Semoga cepat lekas pulih seperti sedia kala semuanya. Dan waspada banyak wabah penyakit pasca banjir. Hati2 ya Gie…

  29. Turut prihatin .. tapi sekarang sudah surut kan Gie .. ga kebayang deh lelahnya kalo sedang kebanjiran. Ya lelah phisik, lelah hati dan sebagainya. Semoga Gie beserta keluarga dilimpahkan kesehatan dan selalu dalam lindungan-Nya.

  30. Wah wah… Tinggi juga ya Gie…

    Sekarang kabarnya gimana??

  31. *OOT*
    mana, mana, mana sesajen baruna?πŸ˜†

    *masi OOT*

    lha…??? cari sendiri lah…. yang lain aja udah pada tau… udah dua post ini lho… buruan cari… sebelum ketinggalan banyak post..πŸ™„

  32. waduh,, mpe segitunya ya..? sorry to hear that…

    hmm,, ndak tau ya apa resepnya.. tapi kata orang-orang tua sih coz Jogja kan dulu termasuk tempat penjajahan Belanda,, nah,, waktu itu tu udah dibangun sistem drainase yang masih ada sampai sekarang.. jadi,, alhamdulillah Jogja jarang-jarang kena banjir…

    sama mungkin program kebersihan yang digaung-gaungkan pemerintah berhasil kali yak.. huehe… ndak tau juga ding..

    trus,, sekarang masih kebanjiran kah..?

  33. adit-nya niez
    Udah surut.
    Rumah berantakan.
    Aku ndak punya sendal lagi.
    Tipiku tewas (syukur…)πŸ˜†
    Dan aku masih ngeblog.πŸ˜›

    c e l o
    aku kan tidak mengikuti ritualnya.. jadi ya lon tau la..πŸ˜›

    anginbiru
    Hmm.. Bandung kapan seperti jogjah ya…

    *retoris mode on*

  34. *maaf telat..abis sakit*

    Gie…yg sabar yach… *peluk2 gie*
    kirimin sumbangan sandal mau nga?

  35. Ping-balik: Ya Allah, Tolonglah Kami! « BLOGIE

  36. numpang tanya mas.. klo jln adipatikertamanah BE kena juga???

    jawab ya mas…….

    thx……

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s