Ketika Demo Menjadi Mulut Kedua

Belum lama ini puluhan mahasiswa dan pelajar yang tergabung dalam Gerakan Mahasiwa dan Pelajar Tasikmalaya (GMPT) melancarkan aksi demonstrasi menentang kenaikan harga BBM. Mereka berorasi menuntut pemerintahan SBY – JK membatalkan rencana menaikkan harga BBM. Mereka menilai kebijakan pemerintah tersebut hanya akan menambah beban hidup rakyat kecil.

Tidak hanya sampai di situ saja, akhir-akkhir ini pun kita sering mendengar berita tentang demonstrasi-demonstrasi di berbagai daerah yang juga sama-sama melakukan aksi menentang kenaikan harga BBM. Aksi-aksi tersebut tidak jarang diwarnai dengan berbagai tindakan yang mengganggu keamanan dan kenyamanan masyarakat sekitar, seperti bentrokan mahasiswa dengan polisi, penyegelan SPBU, memenuhi jalan utama sehingga menyebabkan kemacetan, bahkan ada demo yang dilakukan hingga larut malam!

Perbedaan pendapat. Itulah yang sebenarnya mendasari mengapa manusia melakukan hal-hal yang melebih batas kewajaran. Perbedaan pendapat dengan orang atau golongan tertentu sering kali membuat polemik di antara kita, meskipun hanya menyangkut hal yang kecil sekalipun.

Padahal, sejak kecil kita didoktrin, dipupuk tentang semboyan “Bhineka Tunggal Ika”, yang artinya walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Tidak hanya sebagai prinsip untuk mempersatukan adat dan istiadat budaya yang beranekaragam di Indonesia, semboyan ini juga selalu mendasari kita untuk selalu bersikap terbuka, bersikap open mind tentang segala perbedaan pendapat dalam kehidupan.

Terlepas dari mana yang benar dan mana yang salah, saat perbedaan pendapat muncul, budaya yang dapat dirasakan adalah kaum minoritas yang hanya bisa mengandalkan aksi demonstrasi sebagai mulut ke dua mereka. Memang, hidup di dalam NKRI yang menjunjung tinggi prinsip demokrasi, kita memiliki hak-hak yang dilindungi oleh undang-undang bagi setiap warga negara yang ingin mengutarakan pendapatnya di muka umum. Namun sayangnya sering kali aksi ini tidak didasari dengan sikap saling menghormati di antara dua belah pihak, malahan bukan hasil yang terbaik yang diraih tetapi dampak negatif yang kita rasakan.

Tidak banyak aksi demonstrasi yang dilakukan berbau tindak anarki. Bila sudah begini, dimana lagi prinsip demokrasi yang kita junjung tinggi? Masihkah semboyan Bhinneka Tunggal Ika kita percayai?

Tentu banyak hal-hal teoritis yang kita terima, sementara dalam prakteknya masih banyak hal-hal yang belum benar. Di institusi pendidikan, di dalam kelas kita pernah belajar tentang betapa pentingnya arti demokrasi, saling menghargai, namun sering kali kita menyalahkan-gunakan hak-hak yang kita punya. Masih banyak dari kita yang mengedepankan kepentingan pribadi dan golongan ketimbang kepentingan bersama.

Saat ini Indonesia tengah memperingati seabad hari kebangkitan nasional. Memperingati perjuangan-perjuangan dan jasa-jasa para pahwalan yang telah lalu, negara ini sudah seharusnya memiliki semangat kebangkitan yang jauh lebih heroik daripada seratus tahun yang lalu. Dengan berbagai pengalaman berkebangsaan, tentunya rasa persatuan dan kesatuan negeri sudah sepantasnya menjadi lebih progresif.

Karena negara kita pun lahir dari semangat persatuan untuk merdeka, sudah seharusnya setiap masalah yang lahir dari perbedaan dapat diselesaikan dengan baik. Aksi demonstrasi tidak akan menjadi paradigma buruk bila kita masing-masing pihak mengetahui dimana posisinya masing-masing dan tentu saja kita melakukannya dalam batas-batas yang tidak merugikan orang lain.

12 responses to “Ketika Demo Menjadi Mulut Kedua

  1. Ya…

    Saya juga kurang setuju bagi teman2 saya sesama mahasiswa yg berdemo kelewatan batas.

    Lagian menurut saya sekarang bukan zamannya berjuang dengan kekerasan macam orba dulu. Kita harus bisa mencari cara lain yang lebih sesuai dan efektif.

    Lagian kalo emang merasa dirinya benar, kata Hatta coba aja buat partai politik baru dan pastinya akan mendapat massa yg besar kalau memang mereka dan pemikirannya itu sesuai dengan apa yg diinginkan rakyat.

  2. Saya menyadari posisi mereka.
    Well, tidak menyalahkan masyarakat ataupun demokrasi itu sendiri. Belajar menjadi dewasa dalam berdemokrasi atau menjadikan demokrasi menjadi dewasa tidaklah melalui proses yang sekejap apalagi dihadapkan dengan dinamika yang begitu fluktuatif ditambah kebhinekaan yang Gie sebutkan di atas.

    Itu bisa menjadi penunjang, bisa jadi tantangan, bisa juga menjadi hambatan. Dalam konsep NKRI dengan ATHG dalam fenomena yang terjadi di masyarakat saat ini kita semua perlu belajar lebih. Tidak ada yang paling benar dalam hal ideologi dalam demokrasi, kita semua belajar untuk menemukan bentukan ‘demokrasi’ yang tepat dalam negara ini.

    Yang terjadi saat ini bukanlah penyalahgunaan makna demokrasi tersebut (walau banyak pihak yang meperpersepsikan sempit) tetapi yang diusung dalam demo tersebut adalah fungsi kita (masyarakat) apalagi mahasiswa (dengan imagenya yang kritis) untuk menjadi kontroler dalam pemerintahan dan gejolak hidup. Karena dianggap lembaga legislatif tidak dapat dipercaya lagi oleh mereka (karena beberapa masih penuh dengan ego kepentingan pribadi) dan lembaga eksekutif yang juga mbandel dan masih ego pribadi/golongannya tinggi.

    Mau tidak mau sistem seperti inilah yang bisa diterjang. Jangan terlena oleh segala bentuk kemiskinan pikiran dan kepasrahan pada nasib. Sesuai dengan tema dekat hari ‘Kebangkitan Nasional’, mari kita bangkitkan lagi performansi diri sendiri dan masyarakat serta kultur yang berkembang saat ini. Mari belajar dewasa dalam berdemokrasi.

  3. Demo sih boleh-boleh saja, tapi itu pun -kalau menurut saya- sudah merupakan usaha terakhir. Setelah saran, negosiasi, kritik tidak lagi didengar. Sayangnya, para pejabat kita memang kurang sekali memberikan apresiasi terhadap hal-hal semacam itu, jadinya … demo lagi demo lagi. Bosan saya sebetulnya.

  4. sekarang kaya nya demo lebih banyak yang anarkis

  5. Aksi demonstrasi tidak akan menjadi paradigma buruk bila kita masing-masing pihak mengetahui dimana posisinya masing-masing dan tentu saja kita melakukannya dalam batas-batas yang tidak merugikan orang lain.

    Saya setuju dengan kalimat itu. Kalimat sejenis yang pernah saya ucapkan pada rang-orang yang benci demonstrasi.

    Bukan apa-apa. Saya bukan penggemar demonstrasi. Tidak untuk saat ini. Tapi saya tetap ndak bisa terima ketika segerombolan orang-orang intelek mencibiri aksi turun ke jalan demikian dengan berbagai dalih. Lebih celaka lagi ketika tipikal pencibir ini adalah tipikal yang sudah berada di zona kenyamanan, yaa… misalnya akses internet mantap, memiliki perangkat komputer yang bagus, keuangan yang stabil. Tipikal yang jika mau protes merasa semuanya akan tuntas dengan aspirasi, katakanlah … di blog misalnya?

    Bagi saya itu sama bvllsh!tnya dengan demonstrasi ndak jelas. Jadi omong-kosong meneriaki omong-kosong. Fallacy? C’mon!😆

    Setidaknya saya mau yang tipikal ini sadar, bahwa bukan buku-buku dan artikel saja yang mengubah negara. Dengan masih mandegnya reformasi, misalnya, tidak lantas menjadi dalih bahwa demonstrasi adalah something useless. Kebebasan berpendapat hari ini boleh dikatakan ekses demonstran yang terjun di Mei 1998. Siapa yang bisa menyangkal? Blogger seperti saya?😆

    Hargai saja jika ada yang mau turun ke jalan. Seminimalnya, bukankah mereka membawa aspirasi umum juga, meski dengan motif-motif tersendiri. Jangan memposisikan diri di menara gading kenyamanan seakan semua beres di muka bumi dengan blogging belaka, misalnya.

    Ya, menulis adalah berbuat. Saya sepakat. Tapi menjadi tameng untuk mengkritiki aksi jalanan? Well… saya pikir itu tidak adil. Setiap orang melakukan menurut porsinya masing-masing. Aksi-aksi yang mengganggu ketertiban umum itu yang mesti dikritiki, bukan membabi-buta menolak semua demonstrasi, bukan?

    Meski saya merasa pesimis… perubahan dengan demonstrasi damai itu apa masih mungkin, ketika demokrasi hari ini adalah demokrasi dimana 5 serigala dan 1 domba melakukan voting tentang apa yang harus dimakan😆

    Mungkin… terkadang anarki bisa menjadi pilihan… IMHO🙂

  6. Demonstrasi saat ini seharusnya lebih intelek lagi jangan hanya mengandalkan Massa semata, sebab semakin banyak orang cerdas seharusnya Demo menampilkan wajah baru bukan hanya selalu model kuno (Pengerahan Massa). Apalagi bila ada seseorang yang mengaku cukup berpengaruh, tetapi kalo Demo yang dilakukannya masih model kuno itu berarti ia hanya seorang yang jago mempengaruhi (Provokator) daripada seorang berpengaruh.
    Salam Sukses http://economatic.wordpress.com/

  7. saya tidak suka demo, demo zaman sekarang kelewat batas!

  8. iya neeh… kenapa sich selalu ada keributan😦
    kan bikin maceeet…. dah stress ma kerjaan pas pulang atau mo ketemu client pasti kena macet huh… menyebalkaann ( ups kenapa saya jadi marah² gini…?) heuhueu afwan..afwan…

    ok merdekaaa…..

  9. makanya…
    daripada demo, mending nunjukin aksi nyata😀

  10. bosen ah denger orang demo😦

  11. Ah…mahasiswa.

    Udah takdir sih mreka jd mulut nya rakyat. Yah, buttt…kadang mreka terlalu melebih2kan. Mreka toh cuma bisa ngomong doang. G ada realisasi nya toh…

  12. Jihad paling afdhol adalah ktika pemimpin dlm kesesatan, mka kita memperingatkan dan mencoba meluruskan…namun bkn brarti menvonis…sprti halnya kita yg menvonis para pendemo kurang krjaan atau perbuatan yg tdk ada realisasinya. Buktinya bnyak kasus yg terkuak karna diawali dari demonstrasi. Scara tdk sadar kadang kita menyepelekan para pendemo dengan mencibir bahkan menghina, namun hanya sedikit orang yang menghargai jasa mereka…harusnya kita tertunduk malu krna kita tdk dapat memberikan kontribusi lebih untuk kesejahteraan bersama, bkn bangga krna sdh merasa memperkaya diri sendiri saja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s